income.web.id

Peluang Bisnis, Online dan Offline, Entrepreneurship


Menghidupkan laba dari guntingan gambar


Kerajinan papertole bisa membuat gambar dua dimensi menjadi tiga dimensi dengan cara menumpuk potongan kertas. Karena menarik dan unik, produk papertole ini disukai pasar lokal dan luar negeri. Tak heran jika bisnis ini terus berkembang ke gambar pernikahan.


Seni kerajinan menumpuk dan menyusun potongan kertas atau papertole sebenarnya sudah bukan barang baru lagi di Indonesia. Dengan kreativitas perajin papertole yang terus berkembang menjadikan kerajinan ini mulai dilirik banyak orang.

Papertole juga kerap disebut decoupage 3 dimensi. Dengan menyusun potongan tiga hingga lebih dari sepuluh gambar yang sama, akan didapatkan objek gambar lebih hidup dengan gradasi warna yang menarik.

Seni papertole sendiri berasal dari benua Amerika dan Eropa. Perkembangan seni ini di Indonesia tidak lepas dari orang-orang yang pernah tinggal di benua tersebut.

Sebagai sebuah karya seni, papertole juga terus berkembang mengikuti zaman. Jika dulu papertole banyak digunakan untuk memperindah gambar bunga, rumah, ataupun tokoh kartun, kini bisnis ini juga menyasar jasa foto pernikahan.

Salah satu yang sudah melakoni adalah Largo Papertole. Didirikan oleh Thomas Aquinas Pramudya Wardhana satu tahun lalu, Largo Papertole mengkhususkan diri pembuatan papertole untuk momen khusus, seperti pernikahan dan pranikah. "Kita juga membuat papertole berdasarkan pesanan khusus," kata Thomas, yang membuka workshop di Jalan Polowijan Nomor 38, Kraton, Yogyakarta ini.

Selain menerima pesanan pembuatan papertole dari fotografer lokal, Thomas juga merambah dengan menggandeng reseller negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Untuk karya yang dijual ke Malaysia atau Singapura, Thomas mengambil gambar-gambar khusus yang banyak diminati. "Jika jalan-jalan di Malaysia dan menemukan papertole menara Petronas, itu bisa jadi buatan saya," katanya. Ia mengaku rutin mengirimkan papertole ke negeri jiran tersebut.

Tak hanya di Malaysia dan Singapura, kreasi papertole Thomas juga banyak dipesan warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti Australia dan Italia. Namun, untuk pasar segmen ini, lebih banyak bergambar foto keluarga.

Harga yang ditawarkan untuk tiap papertole berbeda. Selain tergantung besar kecilnya ukuran, juga tergantung banyak sedikitnya lapisan kertas yang digunakan. Thomas mengaku paling sedikit memakai enam 6 layer atau lapisan.

Dengan jumlah lapisan sebanyak itu, papertole ukuran 22,5 centimeter (cm) x 15 cm dijual dengan harga Rp 150.000. Untuk ukuran 60 cm x 90 cm harganya Rp 2 juta. Dari bisnisnya ini, Thomas mengaku mampu diraih omzet antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Indra Indrawan di Bandung juga berbisnis papertole. Dengan merek Paper Lights, Indra memulai usaha ini sejak tahun 2007. Tak hanya menjual produksinya di Bandung, Indra juga menyuplai papertole ke Sumatra.

Walau mengaku kesulitan mengembangkan pasar di awal usaha, saat ini Paper Lights sudah bisa memperoleh omzet hingga Rp 10 juta tiap bulan.

Beberapa tema yang banyak diminati masyarakat antara lain, pasukan Kraton Yogyakarta, pedati, pemandangan alam, flora-fauna, tokoh pewayangan hingga tema religius. "Konsumen juga bisa memesan gambar lain," katanya.

Selain melayani tema bebas, saat ini Indra juga disibukkan dengan pesanan foto pernikahan dari wedding organizer. Termasuk perkantoran, dan individu untuk kartu ucapan. Dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 600.000 per lembar, permintaan papertole melonjak 30% menjelang Lebaran dan Natal.

Menurut Thomas, seni papertole membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Suasana pikiran dan hati atau mood yang baik saat mengerjakan juga menjadi faktor bagus tidaknya papertole dibuat. "Tidak boleh asal-asalan, karena tampilan tiga dimensinya bisa tidak maksimal," katanya.

Untuk memperoleh efek tiga dimensi yang sempurna, kertas foto yang telah dipotong-potong ditempel pada kertas karton kecil yang berfungsi sebagai penyangga. Dengan tempelan karton tadi, gambar akan semakin menonjol, atau dikenal dengan teknik embos.

Selain pemotongan gambar yang memerlukan kejelian, penempelan kertas juga membutuhkan imajinasi. "Memotongnya juga memakai aturan tidak asal potong, ada urut-urutannya," kata Thomas. Saat ini, produsen gambar khusus papertole telah mempermudah dengan panduan pola potong. Namun, kertas gambar yang dibuat sangat terbatas.

Karena itu, perajin papertole tidak bisa hanya bergantung pada kertas gambar khusus papertole yang dibuat pabrik. Sebab, permintaan papertole lebih banyak datang dari individu yang menginginkan gambar sesuai dengan keinginannya. Setelah gambar selesai ditempel, yang perlu dilakukan kemudian adalah melapisi dengan pernis khusus. Pelapisan itu dilakukan agar kertas lebih awet dan mengkilat.

Thomas mengatakan, papertole dengan ukuran 22,5 cm x 15 cm dan 42 cm x 31 cm biasanya bisa diselesaikan dalam waktu satu hari. Adapun untuk ukuran 40 cm x 60 cm sampai 60 cm x 90 cm perlu waktu yang tiga hari. "Modalnya cukup gede, sebab papertole seharga Rp 2 juta, keuntungannya hanya sekitar Rp 500.000," ungkapnya.

Modal besar terutama digunakan untuk mencetak gambar foto digital. Cetak satu lembar foto digital ukuran 40 cm x 60 cm biayanya Rp 100.000. Harga papertole menjadi mahal, menurut Thomas, juga karena menggunakan krungkut, yang tebal dan mengkilat.

sumber: kontan.co.id
0 Komentar untuk "Menghidupkan laba dari guntingan gambar"

Download Ebook Gratis