income.web.id

Peluang Bisnis, Online dan Offline, Entrepreneurship


Share : Rahasia Bisnis Orang Tionghoa 2


Keturunan Cina di Indonesia yang jumlahnya 4% dari populasi penduduk Indonesia, menguasai 17 dari 25 konglomerat Indonesia dan total kekayaan mereka hampir 75% dari seluruh kekayaan perusahaan di Indonesia. Fenomena ini terjadi di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Sebagai gambaran, populasi orang Cina di Thailand sebesar 10% dan menguasai ekonomi/kekayaan 90%, Filiphina populasi 1% menguasai kekayaan hampir duapertiga. Malaysia relatip kebih baik komposisinya, populasi sepertiga, menguasai ekonomi juga sepertiga. Ini, berkat program pemerintah Malaysia dalam bidang pribumisasi penguasaan ekonomi.


Bila dilihat lebih jauh, bisnis orang Cina perantauan (Hoa Kiau) yang bermukim di seluruh Dunia, tak terkecuali Africa diperkirakan memiliki kekayaan likuid- diluar sekuritas mencapai US$ 2 triliun, hampir sama dengan dana seluruh perbankan Jepang sebesar US$ 3 triliun. Kegiatan ekonomi Hoa Kiau tahun 1990 diperkirakan sebesar US$ 450 miliar seperempat GNP China sendiri.

Penguasaan ekonomi Cina perantauan (Hoa Kiau) ini menarik untuk disimak penyebab-penyebabnya antara lain karena :

Satu, orang Cina, mereka suka hidup berkelompok. Hampir di setiap negara dijumpai kantong-kantong pemukiman dan tempat bisnis Cina yang biasa disebut China Town. Kalau di Indonesia kita tak asing lagi mendengar nama “Kampung Cina” yang ada hampir di setiap daerah. Kalau di Jakarta kita mengenal “Pluit” dan “Kelapa Gading“, komplek pemukiman yang sebagian besar dihuni oleh orang China.

Kebiasaan hidup berkelompok ini, tidak kita temukan pada “Etnis Minang” yang sementara ini dianggap salah satu Etnis yang bisa bersaing dengan Cina disektor perekonomian. Kita jarang mendengar nama Kampung Padang/Minang, paling-paling jalan Minangkabau, Jalan Padang Panjang, Jalan Bukit Tinggi di daerah Manggarai, Jakarta, tapi di daerah itu tidak bermukim kelompok orang Minang (Sumber : Jernih Melihat, Cermat Mencatat oleh Mathias Pandoe).

Kebiasaan hidup berkelompok ini membuat komunikasi menjadi mudah dilakukan/ effektif, entah itu saat sembahyang bersama, berolah raga dan lain sebagainya. Keliatannya mereka terinspirasi dari sapu lidi, dimana sebatang lidi tak berdaya, tapi bila dijadikan satu/diikat bisa jadi senjata, minimal untuk menyapu.

Dua : Kekuatan bisnis Cina terletak pada jaringan yang disebut Guangxi, dibentuk secara alami antara sesama pedagang di Hongkong dan di Singapore, yang di Singapore dan di Jakarta. Kekuatan jalin menjalin ini terjadi juga antara sesama pedagang di satu kota dan dengan pedagang di kota lainnya.

Tujuan jaringan ini untuk menyajikan informasi secara informal, mendapatkan rasa aman, bukan satuan perusahaan yang terpusat, melainkan suatu integrasi dari berbagai kepentingan yang membentuk sistem yang sinergis. Laba operasional menjadi kurang berperan, yang terpenting adalah perputaran dana (cash flow).

Hubungan seperti inilah yang berlangsung diantara pengusaha Cina dimanapun mereka berada, titik kulminasi ini yang membuat mereka kembali ke Cina membangun negerinya.

Di Asia, jauh sebelum pemerintah Cina membuka pintu terhadap modal asing, salah satu tokoh pemilik Bangkok Bank yaitu Chin Sophanpanich membantu konglomerat Robin Loh (Singapore-Malaysia), Robert Kuok (Malaysia) dan Liem Sioe Liong (Indonesia).

Guangxi adalah ikatan atas dasar hubungan keluarga, klan ataupun tempat kelahiran. Guangxi ini juga terjadi karena senasib di perantauan. Dimana saja, orang Cina berbisnis selalu mulai dari lingkaran paling dalam, apakah itu merekrut karyawan, mencari pemasok, mencari mitra berdasarkan hubungan keluarga, kerabat atau sahabat. Jika tidak di dapat, baru dicari dari pihak luar.

Guangxi, sangat berbeda dengan Jaringan dan Gaya Bisnis India, dimana orang India enggan bekerja sama dengan sesama India. Mereka bersitegang untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam bisnis, orang India tidak memilih-milih etnik. Mereka OK saja berbisnis dengan etnik Cina, yang penting dapat keuntungan maksimal.

Guangxi yang merupakan inti dari saling kerjasama supaya menjadi semakin besar, bila kita hubungkan dengan kebiasaan bangsa kita Indonesia, justru yang terjadi sebaliknya. Sebagai contoh : Diawal kemerdekaan kita mengenal banyak partai dan disederhanakan oleh Mantan Presiden Soeharto menjadi tiga Partai. Setelah Reformasi tahun 1998, kembali lagi menjadi banyak partai. Dalam Pemilu tahun 2009 terdapat sebanyak 48 Partai. Saking banyaknya, relatif sulit menyatukan suara untuk mensejahterakan rakyat. Disamping itu, rakyat bingung memilih anggota parlemen karena calonnya begitu banyak.

Guangxi, menjadi dinamis karena nilai-nilai Konfusius yang berkembang dalam sejarah dinasti Cina yaitu nilai-nilai : hidup hemat, kerja keras dan dapat dipercaya.

Tiga, Orang Cina jago matematika.

Bisnis/berdagang, tujuan utamanya adalah mencari laba atau keuntungan. Keuntungan diperoleh dari hasil Penjualan dikurangi Harga Pokok/Modal (Harga jual – Harga Pokok/Modal = Laba/Keuntungan). Untuk mendapat keuntungan, pengetahuan yang paling dominan adalah hitung-hitungan atau matematika.

Ucapan nomor/angka dalam bahasa Cina sangat singkat, mudah diucapkan seperti 4 adalah ”si” dan 7 ”qi”. Di Jakarta, sudah menjadi bahasa sehari-hari seperti 150 ”pek go”, jauh lebih simpel dibandingkan ”seratus lima puluh”. Cina juga memiliki sistem perhitungan yang logis, sebelas adalah sepuluh-satu, dua puluh empat adalah dua sepuluh-empat.

Sistem yang logis dan angka yang mudah diucapkan, membuat anak Cina dapat belajar berhitung lebih cepat. Anak-anak Cina pada usia empat tahun dapat menghitung sampai empat puluh, sedangkan anak-anak Amerika hanya sampai lima belas.

Bila dibandingkan dengan anak-anak Indonesia, rata-rata, siswa dan siswi di Kota Shanghai, Cina, menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam bidang matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, skor Indonesia adalah 371 dan 401.

sumber: forum kaskus : UserID: 299336
0 Komentar untuk "Share : Rahasia Bisnis Orang Tionghoa 2"

Download Ebook Gratis